
TABANAN BALI, BPI91.COM – Di tengah gemuruh arus modernisasi dan tantangan zaman yang makin kompleks, seorang psikiater asal Tabanan, Bali, dengan tenang namun tegas menyuarakan hal mendasar yang sering terlewatkan: pentingnya pendidikan pra nikah.
Dialah dr. Mahayasa, seorang dokter jiwa yang tidak hanya memahami manusia dari sisi klinis, tetapi juga menyelami secara mendalam akar pembentukan karakter anak sejak dini—bahkan sejak dalam kandungan.
Baginya, generasi emas 2045 tak bisa lahir dari keberuntungan semata. Ia harus disiapkan, dirawat, dan dipahami dari titik awal: calon ayah dan ibu yang sadar akan perannya sebagai pembentuk peradaban.
“Kalau kita ingin Indonesia hebat, kita harus mulai dari dua orang: calon suami dan istri. Pendidikan pra nikah bukan soal hukum agama atau syarat administratif semata.
Ini soal masa depan bangsa,” ujar dr. Mahayasa saat ditemui di kediamannya yang juga menjadi pusat diskusi para tokoh pendidikan dan kesehatan di Tabanan.
Dalam setiap sosialisasinya, dr. Mahayasa mengangkat urgensi golden age atau masa emas anak yang sering luput dipahami para orang tua muda. Ia menjelaskan dengan rinci fase-fase kritis perkembangan anak:
Usia 0 – 1,5 tahun, anak bukan hanya butuh susu dan tidur, tapi juga ketenangan dan kehangatan emosional. “Ibu yang tenang akan melahirkan anak yang tenang. Ini bukan mitos, ini ilmu. Anak menyerap ketegangan emosional ibunya dari dalam kandungan,” jelasnya.
Bahkan anak.dan ibu dwi tunggal.pada fase ini, Apa yg dialami ibu secara emosional bayi akan merasakannya. Apabila fase awal.ini tdk terselesaikan akan menjadi generasi pen CEMAS dikemudian hari.
Usia 1,5 – 3 tahun, anak butuh kebebasan gerak, eksplorasi, dan pengakuan. Ia menekankan bahwa di masa ini, ayah dan ibu harus hadir bukan hanya secara fisik, tapi juga memahami kebutuhan dasar perkembangan motorik dan keingintahuan anak.
Mulainya pendidikan disiplin awal spt toliet training bila fase ini tdk terselesaikan dg baik akan menjadi generasi yg kurang bisa mandiri
Usia 3 – 5 tahun, anak mulai bersosialisasi. Di sinilah dr. Mahayasa mengkritik penggunaan smartphone yang berlebihan pada anak-anak.
“Kalau sejak kecil anak sudah asyik dengan gawai, siapa yang mengajarkannya mengenali emosi orang lain?” tanyanya retoris, dan di usia inilah anak di *imunisasi mentalnya.
Dengan bersosialisasi anak akan banyak masalah diluar dengan lingkungan diluar keluarga, dan anak menyelesaikannya sendiri sehingga sudah terbiasa anak menyelesaikan masalahnya sendiri.
Apabila fase ini tidak terealisasikan dengan baik bisa kedepan menjadi generasi yg kurang bisa bersosialisasi dan mempunyai daya tahan mental yg lemah dan kurang percaya diri.
Sebagai pengurus KPAI dan PHDI Kab Tabanan , dr. Mahayasa tak hanya bicara di ruang praktiknya. Ia turun langsung ke masyarakat, menyuarakan pentingnya pemahaman psikologis anak, mendampingi keluarga-keluarga yang mengalami masalah, dan mendorong pemerintah untuk menempatkan pendidikan pra nikah sebagai syarat esensial dalam pernikahan.
Ia juga menyambut positif program Kang Dedi Mulyadi, yang memberikan pembinaan melalui “barak” bagi anak-anak yang terlanjur salah asuh.
“Tapi ini cara instan. Bagus, tapi bukan jangka panjang. Yang jangka panjang adalah menyadarkan para calon orang tua dari awal. Kita tidak bisa terus memadamkan api kalau tak pernah menutup sumber apinya,” tegasnya.
Uniknya, dr. Mahayasa juga dikenal sebagai seorang pengusaha di bidang kuliner. Ia mendirikan resto dan kafe di Tabanan yang bukan hanya menjadi tempat makan, tetapi juga pusat diskusi dan edukasi.
“Kalau media seperti AsMEN mau bikin seminar pra nikah atau simposium tentang golden age, tempat ini terbuka. Kita bisa undang tokoh agama, budayawan, dan psikiater. Karena ini kerja kolektif,” ucapnya dengan mata berbinar.
Restonya, yang terletak di tengah pepohonan rindang, sering menjadi tempat berkumpulnya aktivis pendidikan, komunitas orang tua, hingga para influencer yang peduli isu keluarga dan tumbuh kembang anak.
Apa yang dilakukan dr. Mahayasa memang tidak langsung terlihat seperti pembangunan infrastruktur besar atau program nasional yang mentereng. Tapi ia yakin, membangun manusia sejak dini adalah bentuk pembangunan paling fundamental.
“Karakter bangsa dibentuk dari rumah. Dan rumah itu dibentuk dari dua orang yang memilih saling mencintai dan bertanggung jawab. Maka, pendidikan pra nikah harus jadi gerakan nasional,” pungkasnya.
Dengan semangat yang tulus, wawasan keilmuan yang mendalam, serta jejaring sosial dan spiritual yang luas, dr. Mahayasa terus melangkah menanam benih emas untuk masa depan Indonesia. ( Red )
More Stories
PEMIMPIN UMUM MEDIA POLRI BPI91.COM UCAPKAN SELAMAT KEPADA KOMJEN POL SUYUDI ARIO SETO SEBAGAI KAPOLRI BARU, DPR SETUJUI SECARA AKLAMASI
BERITA POLRI INDEPENDEN - JAKARTA, Kabar penting datang dari Senayan. Komisi III dan Rapat Paripurna DPR RI resmi menyetujui Komisaris...
Babinsa Koramil 04/Pulogadung Bersama Komduk Gelar Patroli/Siskamling, Jaga Kamtibmas di Wilayah
BPI91, COM, JAKARTA — Dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, Koramil 04/Pulogadung melaksanakan kegiatan Patroli/Siskamling Keliling bersama Unsur Komduk di...
Brimob dan Polwan Polda Metro Bagikan Roti untuk Massa Hari Tani
BPI91.COM, JAKARTA — Personel Satbrimob bersama Polwan Polda Metro Jaya membagikan roti dan minuman kepada peserta penyampaian aspirasi dalam peringatan...
Polda Metro Jaya Apresiasi Seluruh Peserta Aksi, Penyampaian Aspirasi Berakhir Tertib
BPI91.COM, JAKARTA — Polda Metro Jaya menyampaikan apresiasi kepada seluruh elemen masyarakat yang telah menyampaikan aspirasi di sejumlah titik Jakarta...
Di Tengah Pelayanan Penyampaian Pendapat, Satgas Gakkum Polda Metro Jaya Bagikan Roti dan Minuman
BPI91.COM, JAKARTA — Personel Satgas Gakkum Polda Metro Jaya membagikan roti dan minuman kepada peserta penyampaian pendapat di sekitar kawasan...
Dugaan Penyalahgunaan Barcode Pertanian untuk Pengumpulan Solar Subsidi Terungkap di Pemalang
BPI91.COM, PEMALANG — Dugaan penyalahgunaan penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar mencuat di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Praktik...

